HEADLINE

BAJU KARNAVAL UNTUK BERNA_Cerita Anak Oleh R.Tia



(Diposting kembali oleh redaksi atas persetujuan Majalah Simalaba)


Seminggu lagi perayaan Hari Ulang Tahun kemerdekaan Indonesia, Berna sudah sibuk minta anterin bunda beli baju baru untuk karnaval agustusan yang diadakan di sekolahnya. Setiap hari yang dibahas pasti baju karnaval melulu.

"Ayo, Bun kita ke toko baju belikan Berna baju pilot,"rayunya tak berhenti sambil menarik narik baju bunda yang lagi sibuk memeriksa ulat tanaman sayur hidroponik di belakang rumah.

"Memangnya harus baju pilot, ya?" Bunda balik bertanya "Kan baju punya Kakak masih ada yang bekas tahun kemaren, bajunya juga masih bagus, tinggal beli topinya aja lagi."

"Kan aku cita citanya kepingin jadi pilot Bun, punya Kakak kan baju tentara."

"Apaan sih ribut ribut?"Tiba tiba Kak Wahyu muncul sambil menenteng atribut bendera merah putih di tangannya.

"Ini, Berna kepingin baju pilot buat karnaval di sekolah."

"Pakai baju daster Bunda aja kenapa sih, kan lebih gampang." Kak Wahyu tersenyum jahil.

Mata bunda melotot sementara Kak Wahyu cengar cengir melihat Berna yang spontan langsung merengut mendengar celoteh sang kakak.

"Iya, Ayah dulu bahkan jadi orang orangan sawah waktu karnaval SD." Entah darimana datangnya tiba tiba ayah ikut ikutan menimpali.

"Pokoknya aku ga mau baju yang lain, pokoknya baju piloooot." Berna menjerit sambil berlari ke kamarnya, ngambek.

Bunda menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua anaknya.

***

Hingga beberapa hari ke depannya Berna masih memikirkan tentang baju karnaval tersebut bahkan ketika di sekolah,bagaimana tidak?teman temannya sibuk menceritakan kehebatan baju karnavalnya masing masing, tentu saja Berna makin kecil hati, sementara bunda sampai saat ini belum menunjukkan tanda tanda kalau akan membelikan baju pilot itu buatnya. Ah, bunda jahat pikirnya, ia jadi terlihat murung dan pendiam.

"Aku nanti pakai baju Astronot." Zaki memamerkan bajunya.

"Aku Polisi." Budi tak mau kalah

"Aku Dokter."Lili juga tak mau ketinggalan.

Ah, Berna tambah iri aja mendengar celotehan teman temannya itu, sebenarnya ia bukannya tidak mau memakai baju tentara kepunyaan Kak Wahyu tapi alangkah lebih senangnya kalau ia bisa memiliki sendiri baju pilot seperti apa yang dicita citakannya selama ini.

Bu guru Nova sepertinya menangkap kegelisahan Berna tersebut, ketika jam istirahat berdentang ia menghampiri Berna yang nampak duduk termenung sendirian di pinggir lapangan sekolah sambil menonton teman temannya bermain bola sementara bekalnya masih nampak utuh.

"Kok bekalnya belum dimakan?"

Berna kaget tak menyangka Bu Nova menghampirinya. "Eh, masih belum lapar Bu."

Bu Nova tersenyum melihat reaksi murid kesayangannya tersebut.

"Kenapa Ibu lihat beberapa hari ini terlihat sedih?"

Berna menundukkan wajahnya memandangi ujung sepatunya sebelum akhirnya satu persatu cerita mengalir dari mulutnya.

"Apa aku berlebihan kepingin punya baju pilot? aku kan juga ingin ikut merayakan kemerdekaan kita Bu." Matanya yang bening mengerjap sedih.

Bu guru Nova tersenyum " Nak, ada banyak cara untuk merayakan kemerdekaan itu selain dari yang kau pikirkan saat ini."

"Maksudnya bagaimana Bu? Berna belum paham."

Bu Nova menghela napas pelan.

"Ayo ikut Ibu."

Bu Nova membawa Berna ke ruangan UKS di samping sekolah, disana beberapa kakak kelas Berna terlihat sibuk, mereka memindahkan kardus kardus ke dalam sebuah mobil box, ada juga yang tengah memilah milah mainan dll.

"Itu untuk apa Bu?" Berna menunjuk tumpukan barang dan pakaian yang  masih teronggok di sudut ruangan.

"Ini adalah sumbangan baju baju yang akan kita kirimkan untuk teman teman kita yang tengah mengalami musibah gempa di Lombok"

Gempa, Berna belum terlalu paham benar apa itu gempa, beberapa waktu yang lalu ia hanya melihat di siaran televisi rumah rumah banyak yang hancur dan banyak orang orang yang terluk4.

"Banyak teman teman kita disana yang kehilangan tempat tinggal dan keluarganya sehingga harus tidur di tenda tenda pengungsian yang apabila malam terasa sangat dingin. Makanya kita mengirim mainan mainan, baju baju ini juga selimut agar mereka sedikit terhibur dan tidak kedinginan."

Berna terdiam, ia tidak menyangka gempa bisa menyebabkan hal seperti itu, tak ada mainan, tak ada ayah dan ibu juga kakak apalagi baju karnaval. Ia juga tidak bisa membayangkan jika harus tidur di luar rumah tanpa selimut, ia saja setiap kali pulang ke tempat nenek di Lampung Barat pasti tak bisa berpisah dari yang namanya selimut sebab disana sangat dingin.

"Jika kau besar kau juga akan paham, nak." Bu Nova mengusap kepala murid kesayangannya tersebut.

Sejak saat itu Berna tak pernah lagi menyinggung nyinggung tentang baju Karnaval di rumah, tentu saja hal tersebut membuat keluarganya sedikit heran, apalagi ayah yang biasanya paling jahil ngeledekin, hingga malam harinya menjelang perayaan Agustus akan dilaksanakan.

"Bun, bolehkah aku menyumbangkan baju dan selimutku untuk teman temanku di Lombok?"

Bunda yang tengah membereskan piring piring kotor usai makan malam barusan jadi terdiam, begitupula Ayah, mereka tak menyangka puteranya yang biasanya cerewet itu akan berkata kata seperti itu.

Bunda mengangguk mengiyakan sementara ayah nampak tersenyum lebar.

"Nah, itu baru anak Ayah." Ayah tersenyum bangga seraya merentangkan tangannya lebar.

"Kalau begitu Berna mau membereskan baju bajunya dulu ya Bun." Berna begitu girang sambil bergegas menuju kamarnya di lantai atas.

"Tidurnya jangan larut ya."

"Iya Bun"

Sesampainya di kamar ia tertegun ketika mendapati sebuah seragam pilot lengkap dengan topinya telah tergantung dengan manis di sisi ranjangnya.

"Terima kasih Ayah, Bunda" Berna mendekap baju tersebut dengan kebahagiaan yang tak bisa dia ungkapkan. Berna janji akan jadi anak yang rajin agar kelak dapat mewujudkan cita citanya menjadi seorang pilot agar dapat berbakti untuk nusa dan bangsa.

***


Tentang Penulis:

R.Tia, beberapa tulisannya pernah dipublikasikan di beberapa media tanah air.

No comments