HEADLINE

SUKU BADUY BANTEN _UPAYA MEMPERTAHANKAN TRADISI DI TENGAH DERASNYA TERJANGAN MODERNISASI


(Diposting lagi atas persetujuan Majalah Simalaba)


Dikenal dengan sebutan Urang Kanekes (Orang Kanekes) adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda yang tinggal di wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Lebih dikenal oleh dunia dengan sebuatan suku Baduy. Salah satu suku bangsa di Republik Indoenesia yang memiliki jumlah populasi sekitar 5.000 hingga 8.000 jiwa. Suku Baduy-Banten adalah sekelompok masyarakat suku yang mengisolasi diri terhadap dunia luar. Terutama untuk Baduy dalam. Sementara Baduy Luar sudah lebih terbuka dan menjalin komunikasi dengan baik terhadap suku-suku lainnya di Luar Kanekes. Berbeda dengan Baduy luar, yang sudah tidak asing dengan jepretan kamera, Baduy dalam menolak segala bentuk dokumentasi pengunjung yang datang ke kampung mereka. 

Kata BADUY yang saat ini melekat pada komunitas masyarakat Kanekes sebenarnya adalah sebutan yang diberikan oleh penduduk luar Baduy. Kisah ini berawal dari kelompok peneliti yang datang dari Negara Belanda yang mengelompokkan etnis mereka (Baduy) ke dalam etnis Arab Badawi. Menurut para peneliti tersebut masyarakat Arab Badawi yang memiliki kebiasaan hidup berpindah-pindah (nomaden) sangat mirip karakteristiknya dengan orang Kanekes di Kabupaten Lebak-Banten. Tetapi sebenarnya suku Baduy lebih suka menyebut mereka sebagai Orang Kanekes.

Wilayah Desa Kanekes sendiri berada tepat di kaki pegunungan Kendeng. Secara administrasi desa ini masuk Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi-Banten. Kanekes sekitar 40 km jaraknya dari Kota Rangkasbitung (Ibu Kota Lebak). Pegunungan Kendeng memiliki ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL), mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45% merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). Suhu di daerah ini rata-rata 20 °C.

Tiga desa utama (Dusun) orang Kanekes Dalam adalah Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo.
Sehari hari masyarakat setempat menggunakan bahasa Sunda dengan dialek Banten. Tetapi komunikasi dengan orang orang di luar Kanekes, etnis ini cukup mahir berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia. 


BADUY DALAM

Suku Baduy dalam adalah bagian dari Orang Kanekes pada umumnya, tetapi masih memegang adat isti-adat warisan para leluhur dengan begitu kuat. Mereka tidak terpengaruh arus modernisasi yang sedikit banyak telah menyentuh kelompok Baduy luar.

Tempat tinggal Baduy dalam pun jaraknya lebih jauh. Ditempuh dengan berjalan kaki membutuhkan waktu sekitar 5 jam atau setengah hari dari kampung Baduy luar untuk bisa tiba di kampung Baduy dalam. Medan yang dilalui sangat terjal dan bertebing tebing. Tidak bisa dilalui dengan menggunakan alat transfortasi. Wilayah ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Beberapa peraturan yang dianut oleh suku Baduy Dalam antara lain:

Mereka tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi, Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki, Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan, kecuali rumah sang Puun (Ketua adat), dilarangan menggunakan alat elektronik (teknologi)

Busana Baduy Dalam menggunakan Kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.

BADUY LUAR

Berbeda dengan Baduy Dalam, Baduy Luar sebenarnya telah keluar dari adat dan wilayah Baduy Dalam. Beberapa penyebab dikeluarkanya Baduy Luar dari rumpunnya adalah karena sudah tidak memegang tradisi yang masih dianut oleh Baduy Dalam yakitu telah bersentuhan dengan dunia luar dari aspek modernisasi. Lebih rinci penyebab di keluarkannya karena tiga hal; Melanggar adat masyarakat Baduy Dalam, atas keinginan sendiri untuk keluar dari Baduy Dalam, Menikah dengan anggota Baduy Luar

Masyarakat Baduy luar telah mengenal teknologi, peralatan elektronik, meskipun penggunaannya tetap merupakan larangan untuk setiap warga Baduy, termasuk warga Baduy Luar tetapi Baduy Luar menggunakan peralatan tersebut secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan pengawas dari Baduy Dalam.

Pembangunan rumah tinggal Baduy Luar kini sudah menggunakan alat-alat modern, seperti gergaji, palu, paku, dan lain sebagainya dimana hal tersebut merupakan larangan bagi Baduy Dalam.

Pakaian adat pun Baduy Luar ini juga berbeda dengan Baduy Dalam, dengan menggunakan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki) sebagai perlambangan bahwa mereka tidak suci. Bahkan sudah banyak yang menggunakan pakain ala masyarakat modern. Tetapi apapun perbedaannya, kedua kelompok ini tetap hidup berdampingan secara dinamis dan saling menghargai satu sama lain.

(dari berbagai sumber)





Pemukiman Suku Baduy: wilayah menemukan kedamaian
sekaligus sebagai pembentukan karakter khas manusia di dalamnya

Orang orang Baduy percaya bahwa mereka adalah keturunan dari Batara Cikal, satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia. Demikian sekilas tentang kepercayaan yang dianut oleh warga Baduy.

Tetapi bila kita mengacu pada bukti sejarah serta menurut penelitian para ahli, masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke- 16 berpusat di Pakuan Pajajaran (Bogor Saat ini). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umun menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut.

Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut. Perbedaan pendapat tersebut membawa dugaan bahwa pada masa lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, mungkin adalah untuk melindungi komunitas Kanekes sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Kanekes adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna, 1993b: 146). Orang Kanekes sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-orang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitan=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan.




Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai ajaran Sunda Wiwitan, ajaran leluhur turun temurun yang berakar pada penghormatan kepada karuhun atau arwah leluhur dan pemujaan kepada roh kekuatan alam (animisme). Meskipun sebagian besar aspek ajaran ini adalah asli tradisi turun-temurun, pada perkembangan selanjutnya ajaran leluhur ini juga sedikit dipengaruhi oleh beberapa aspek ajaran Hindu, Buddha, dan di kemudian hari ajaran Islam.

Bentuk penghormatan kepada roh kekuatan alam ini diwujudkan melalui sikap menjaga dan melestarikan alam; yaitu merawat alam sekitar (gunung, bukit, lembah, hutan, kebun, mata air, sungai, dan segala ekosistem di dalamnya), serta memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada alam, dengan cara merawat dan menjaga hutan larangan sebagai bagian dalam upaya menjaga keseimbangan alam semesta. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apa pun", atau perubahan sesedikit mungkin: Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung, artinya “Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung”

Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitu sepotong bambu yang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.




Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Ke-lima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya Pu'un atau ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau airnya keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen akan terjadi (Permana, 2003a).

Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan negara Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan. Secara nasional, penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu "Pu'un".

  Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "Pu'un" yang membawahi tiga kampung Tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga ke kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan Pu'un tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.

Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat-istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui bupati Kabupaten Lebak. Di bidang pertanian, penduduk Kanekes Luar berinteraksi erat dengan masyarakat non Kanakes, misalnya dalam sewa-menyewa tanah, dan tenaga buruh.

Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.




Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Kanekes Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk.

Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Kanekes juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Kanekes sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

(dirangkum dari berbagai sumber)

No comments