HEADLINE

WASPADAI GEJALA AWAL KANKER SERVIKS

 


Mereka adalah koloni virus yang ada di lingkungan kita, diam dan sembunyi dalam ketidaktahuan manusia. Mengintai dalam hitungan jarak yang tidak terlalu jauh, menunggu kesempatan untuk manginvasi ke dalam tubuh, membelah dirinya  menjadi semakin liar, metastase ke jaringan sehat yang ada di sekitarnya hingga tak terkendali. Dan kita hanya bisa menghitung, memastikan angka angka di pohon kalender terus berguguran lalu kemudian mati pelan pelan.

Kita dalam kehidupan sehari hari mungkin sudah acap mendengar entah itu di iklan layanan masyarakat di media elektronik, majalah ataupun tema tema di seminar tentang bagaimana bahaya kanker serviks atau juga dengan istilah lain yang lebih dikenal dengan kanker leher rahim. Ya, kanker serviks adalah jenis kanker mematikan yang menyerang salah satu organ reproduksi yang paling ditakuti oleh kaum perempuan. Penyakit ini diklaim sebagai pembunuh perempuan nomor satu di dunia terutama di negara negara berkembang termasuk Indonesia. Setiap tahun diperkirakan 7,6 juta orang di dunia meninggal karena kasus kanker. Menurut data WHO pada tahun 2014 terdapat sekitar 92.000 kasus kematian perempuan Indonesia akibat kanker dan rekor tertinggi masih didominasi oleh kanker serviks dengan jumlah kasus baru sebanyak 21.000 tiap tahun.

Kanker serviks adalah jenis kanker yang dapat mengincar segala kelompok usia dari remaja belia hingga menepouse, terutama perempuan yang telah aktif secara seksual. Sekitar 70 % kasus kanker serviks disinyalir disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV) segerombolan virus yang biasa menyebabkan kutil pada tangan, kaki dan kelamin, namun untuk kasus kasus tertentu dapat menjadi ganas terutama seperti HPV 16 dan HPV 18.

Jenis kanker ini menular melalui hubungan seksual. Beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan angka kejadian kanker serviks antara lain adalah  : Menikah dan hamil di usia terlalu muda, perokok, melahirkan banyak anak, Prilaku seksual yang tidak sehat seperti berganti ganti pasangan dll.

Masuknya invasi virus ke dalam tubuh dan berubah menjadi kanker memerlukan proses yang lama bahkan hingga sampai 20 tahun. namun yang ngerinya penyakit ini seringkali menyerang dan berlangsung tanpa gejala yang cukup berarti yang kerap kali tidak disadari oleh penderita sehingga ketika diagnosa baru ditegakkan penderita sudah berada pada stadium yang berat. Keterlambatan diagnosa tersebut membuat penatalaksanaan kanker jadi lebih sulit dan kompleks yang otomatis akan menurunkan angka harapan hidup bagi si penderita.


Adapun ciri ciri yang perlu diwaspadai sebagai gejala kanker serviks adalah : adanya perdarahan yang terjadi di luar siklus menstruasi, walaupun tidak semua perdarahan dapat diindikasikan sebagai kanker serviks. Adanya spot atau perdarahan setelah berhubungan intim, penurunan berat badan yang drastis, susah buang air besar, sering buang air kecil atau keluarnya cairan kental berbau tidak sedap dari serviks.


Tingginya kesadaran kaum perempuan dan orang orang disekelilingnya akan pentingnya deteksi dini kanker serviks di masyarakat sangat berpengaruh terhadap angka harapan hidup sehingga kasus kematian karena kanker serviks dapat terus ditekan. 

( lakukan screening secara berkala, sebagai sebuah langkah antisipasi)

Jadi bagaimanakah sebenarnya cara yang efektif untuk deteksi dini kanker serviks? Deteksi dini kanker serviks dapat dilakukan dengan cara melihat secara langsung perubahan serviks dengan pemberian asam asetat yang disebut dengan metode IVA, cara ini merupakan tahap awal penapisan sederhana yang dapat dilaksanakan di pelayanan dasar kesehatan seperti Puskesmas ataupun praktik bidan mandiri. Teknik yang berikutnya melalui metode pap smear yaitu tindakan pemeriksaan mikroskopik sel yang didapat dari hapusan dinding serviks kemudian diperiksa untuk memastikan ada tidaknya perubahan atau indikasi keganasan yang patut dicurigai. Semua prosedur pemeriksaan di atas sama sekali tidak menyebabkan rasa sakit.

Ketika semua hasil pemeriksaan dinyatakan negatif maka disarankan untuk mengulang kembali pemeriksaan setiap dua tahun sekali dan lima tahun sekali pada perempuan yang telah menopouse.

Tindakan pencegahan berikutnya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan vaksin yang dapat memberikan perlindungan minimal selama 8 tahun.

Setiap perempuan bisa saja terdiagnosa menderita kanker serviks. Nah, masihkan kita enggan untuk menjalani prosedur pemeriksaan tersebut? Tentunya segala upaya akan sebanding dengan manfaat besar yang akan kita terima. Ingat, kesehatan itu memang mahal tapi ternyata sakit itu jauh lebih mahal ( R. Tia / didukung dari berbagai sumber)

No comments